Masuk

Kamis, 09 Juni 2011

Siapa Bilang ”Yasinan” Bid’ah?

Siapa Bilang
”Yasinan” Bid’ah?

Oleh : Drs. Muhammad S. Bukhori Maulana


Mukaddimah

            Di dalam khazanah keagamaan Islam di Indonesia ada istilah ”Yasinan”. Istilah ini merujuk kepada kebiasaan sebagian umat Islam yang menyelenggarakan acara kumpul bersama dengan membaca Surat Yasin. Sekalipun diberi istilah ”Yasinan”, isinya tidak sekedar membaca surat tersebut, tapi biasanya dilanjutkan dengan dzikir bersama kemudian musyawarah dan ditutup dengan do’a. ”Yasinan” adalah kekayaan keberagamaan umat Islam Indonesia yang sangat besar jasanya sebagai media dakwah.
             Tapi tidak semua umat Islam setuju dengan ”Yasinan”. Ada sebagian umat Islam lainnya yang menolaknya. Mereka menganggap praktek ”Yasinan” tidak diteladani oleh Nabi Muhammad dan tidak dianjurkan. Maka kesimpulannya ”Yasinan” adalah bid’ah, mengada-ada dalam agama. Dan para pelakunya  dianggap berdosa. Mereka juga memberi alasan bahwa hadits-hadits yang berisi keterangan tentang keutamaan Surat Yasin adalah hadits-hadits dhoif yang wajib dihindari pengamalannya.

A.     Yasinan adalah membaca Al Qur’an bersama-sama.
Pada kenyataannya ”Yasinan” adalah kegiatan membaca Al Qur’an bersama-sama. Membaca Al Qur’an termasuk dzikir kepada Allah SWT. Allah berfirman :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا ( الكهف : 28)
Artinya :
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” . (QS Al Kahfi : 28)
Dalam bagian hadits Imam Muslim dari Abi Hurairoh ra, Rasulalloh saw bersabda :
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ، يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نُزِلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِّيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ اْلمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ.
Artinya :
”Tidaklah duduk sekelompok orang di antara rumah-rumah Allah sambil membaca Kitab Allah (Al Qur’an) dan mengkajinya di antara mereka, kecuali turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi kasih sayang, dinaungi malaikat dan sebut-sebut Allah di depan Makhluk yang ada di sisi-Nya (maksudnya para malaikat)”.[1]
Dalam hadits tersebut tampak sekali anjuran membaca Al Qur’an bersama-sama, dengan berbagai keutamaannya, yaitu menghadirkan ketenangan batin, menghadirkan kasih sayang, mengundang malaikat datang menaungi, dan dibanggakan Allah di antara para malaikat.

B.      Hadits-hadits surat Yasin yang berderajat maudhu’.
Pada umunya, tradisi ”Yasinan” dilatar belakangi oleh niat menghidupkan sunnah Nabi, yaitu membaca surat Al Qur’an yang berdasarkan hadits Nabi memiliki keutamaan, termasuk surat Yasin.
Memang benar, terdapat beberapa hadits yang menerangkan surat Yasin berderajat dha’if (lemah) bahkan sampai berderajat maudhu’ (palsu). Hadits maudhu adalah sesuatu yang dikaitkan pada Nabi dengan cara dibuat-buat, dan dengan kebohongan, padahal Nabi tidak pernah mengucapkannya, melakukannya atau menyetujuinya.[2] Tegasnya, hadits maudhu’ itu palsu, bukan berasal dari Nabi, tapi dikemukakan sebagai hadits dari Nabi.
Membuat hadits palsu haram hukumnya. Bahkan Al Imam Juwaini menganggapnya sebagai kekufuran. Demikian pula, haram meriwayatkan hadits tersebut [3]. Dengan demikian haram mengamalkan hadits yang berderajat maudhu’ .
Contoh hadits surat Yasin yang berderajat maudhu’ ialah hadits di bawah ini :
عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ دَاوَمَ عَلَى قِرَاءَةِ يس فِى كُلِّ لَيْلَةٍ ثُمَّ مَاتَ مَاتَ شَهِيْدًا.
Artinya :
Dari Anaas ra. Ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda "Barang siapa yang membiasakan membaca surat Yasin pada malam hari maka ketika mati ia mati syahid”.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Thobroni dalam kitab Al Ausath Ash Shogir. Hadits tersebut dianggap maudhu’ karena dalam susunan rawinya terdapat terdapat nama Sa’id bin Musa al Azdi. Ia adalah seorang pembohong (kadzdzaab).[4]
Orang-orang yang bersemangat menganggap ”Yasinan” sebagai perbuatan bid’ah memperkuat hujjahnya dengan hadits ini, dan hadits-hadits surat Yasin lain yang maudhu’. Padahal, bagi orang-orang yang melakukan tradisi ”Yasinan”, hadits-hadits surat Yasin yang maudhu’ sama sekali tidak disentuh, apalagi dijadikan hujjah atau dalil.

C.      Hadits-Hadits Surat Yasin Yang Berderajat Hasan Lighoirihi
Hadits Hasan Lighoirihi adalah hadits dho’if yang jalur periwayatannya lebih dari satu, dan sebab kedho’ifannya bukan karena kefasikan atau pembohongnya perawi.
Dari makna di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa hadits dho’if  bisa naik derajatnya menjadi hadits Hasan Lighoirihi karena dua hal :
Pertama, hadits tersebut diriwayatkan juga oleh seorang perawi lain atau lebih banyak, dimana riwayatnya berderajat sama atau lebih kuat.
            Kedua, sebab kelemahan hadits tersebut adalah karena buruknya hafalan perawi atau terputus sanadnya (inqitho’) ketidak terkenalan (jahalah) nya perawi.
            Hadits Hasan Lighoirihi lebih rendah derajatnya dari pada Hasan Lidzatihi, sehingga jika terjadi perbedaan isi di antara keduanya, hadits Hasan Lidzatihi harus lebih didahulukan.
            Tapi hadits Hasan Lighoirihi termasuk hadits maqbul, diterima sebagai hujjah hukum.[5]
            Dalam bidang hadits, ukuran bagi diterima atau tidaknya sebuah hadits harus didasarkan kepada ukuran ilmu hadits. Maka jika seorang menafikan sebuah Hadits dengan kehendaknya sendiri, berarti ia telah melakukan tindakan gegabah, yang tidak perlu dicontoh apalagi dituruti.
            Untuk memastikan bisa diterima atau tidaknya hadits-hadits surat Yasin, kita wajib menggunakan ukuran-ukuran di atas.
            Di antara hadits-hadits surat Yasin yang menjadi hujjah adalah hadits-hadits di bawah ini :
Pertama
Nabi Muhammad saw bersabda :
1.   أَخْبَرَنِى مَحْمُوْدُ بْنُ خَالِدٍ, قَالَ: حَدَثَنَا الوَالِدُ, قَالَ: حَدَثَنِى عَبْدِاللهِ بْنِ الْمُبَارَك، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِى عُثْمَانَ عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: قَالَ النَِّبيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ
Mengabarkan padaku Mahmud bin Kholid ia berkata, mengabarkan padaku al Walid ia berkata, mengabarkan padaku ia berkata, Abdullah bin Mubarak dari Sulaiman at Taimiyyi, dari Abu Utsman, dari Ma’qal bin Yasaar ia berkata bahwa Rasululah bersabda, “Bacalah Surat Yasiin untuk orang mati kalian.[6]
Hadis tersebut di samping diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam ‘Amal al Yaum wa al Lailah(no: 1075), juga oleh Abu Dawud (no: 3121), Ibn Majah (no:1448) keduanya meriwayatkan dari Abu Utsman dari bapaknya.  Abu Utsman yang dimaksud bukan Abu Utsman al Hindi sesuai yang tertulis. Hadis tersebut juga terdapat dalam musnad Ahmad (26/5), Ibn Hibban (720) dan Abu Ubaid dalam Fadlaail al Qur’an (no:65) dan as Sunan al Kubra oleh al Baihaqi (383/3). Imam al Hakim Abu Abdillah berkata  - setelah menulis hadis ini – dalam al Mustadrak (565/1) bahwa Yahya bi Said dan lainnya menganggap mauquf  hadis ini. Dan komentar dalam hal ini yang dijadikan rujukan adalah komentar Ibn al Mubarak karena tambahan dari orang yang tsiqah (terpercaya) adalah diterima. Al Hafid Ibn Hajar berkata, “Hadis ini gharib” Ibn al Qaththan menganggap hadis ini memiliki cela disebabkan idlhthirab. Imam Daruqutni juga menganggapnya lemah tentang Abu Utsman yang terdapat dalam susunan hadis di atas Ali al madini berkomentar, “Tidak ada seorangpun yang meriwayatkan hadis darinya kecuali Sulaiman at Taimy dan dia adalah orang yang majhul tidak diketahui keadaan pribadinya” dan Ibn Hibban telah menambahi komentarnya tentang Abu Utsman dengan menganggapnya sebagai perawi tsiqat (terpercaya) sesuai dengan kaidahnya.   Idlhthirab (kerancuan) dalam hadis ini terletak pada derajatnya apakah mauquf  ataukah marfu? kemudian apakah hadis tersebut jalur periwayatannya dari Abu Utsman dari Ma’qal atau dari Abu Utman dari Bapaknya dari Ma’qal ? dalam hal ini menghukumi hadis tersebut berujung pada shohih atau hasan dan kalaulah tidak begitu maka pastilah susunan perawi hadis ini (isnad) adalah hasan.[7]
 Secara ringkas kelemahan hadis di atas adalah disebabkan karena pertama, adanya perawi yang majhul (tidak dikenal identitasnya atau tidak ada biografinya dalam kitab-kitab rijaalul hadits) kedua, hadis tersebut dianggap mudlhtharib, dalam hal ini dari segi sanadnya, yaitu apakah dianggap hadis mauquf atau marfu.
Terhadap kelemahan yang pertama maka memang jelas bahwa hadis dalam hadis tersebut  terdapat perawi yang majhul, tetapi untuk kelemahan yang kedua tidak dijelaskan secara terperinci dan meyakinkan mengapa hadis tersebut dianggap mudlhtharib, jadi secara pasti hadis tersebut lemah karena sebab yang pertama.
Kelemahan hadis yang disebabkan majhulnya seorang perawi bisa ditutupi dengan hadis lain yang mengandung makna serupa, yang walaupun lemah tapi kelemahannya tidak terlampau berat. Dalam hal ini hadis di atas bisa ditopang oleh hadis berikut:
عَنْ صَفْوان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَثَنِى الْمَشِيْخَةُ أَنَّهُمْ حَضَرُوا غُضَيْفَ بْنِ الْحَارِثِ الثُّمَالِيِّ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ فَقَالَ: هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ: فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنِ شُرَْيحِ السَّكُوْنِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ: فَكَانَ الْمَشَيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا. قَالَ صَفْوَانُ: وَقَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ الْمُعْتَمَرِ عِنْدَ ابْنِ مَعْبَدٍ.
Dari Shafwa  ra, ia berkata: Telah bercerita kepadaku beberapa syaikh, bahwasanya mereka hadir ketika Ghudhaif ibn Harits al-Tsumaliy mengalami naza’ yang sangat (sakratul maut) seraya berkata, “Siapakah di antara kalian yang dapat membacakan surat Yaasiin?” Lalu shalih ibn Syuraih as-Sakuniy membacakannya. Maka ketika sampai pada ayat 40 Ghunaf wafat. Shofwan berkata : para syaikh berkata, “Bila dibacakan surat Yaasiin di sisi orang yang sedang naza’, niscaya diringankan bagi orang yang naza’ keluarnya ruh dengan sebab bacaan itu”. Kata Shofwan, “Kemudian Isa bin Mu’tamir membaca surat Yaasiin di sisi Ibn Ma’bad pada saat naza’” HR Imam Ahmad dalam musnadnya juz IV /105[8]
 Kelemahan hadis ini adalah karena munqathi yakni riwayat ini hanya sampai kepada Tabi’in dan tidak sampai kepada Nabi saw. Riwayat ini lemah dan termasuk hadis dhaif karena terdapat beberapa syaikh yang disebutkan itu majhul yaitu tidak diketahui identitas dan biografinya.[9]
2.   أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِالأَعْلَى، قَالَ: حَدَثَنَا مُعْتَمِرٍ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ مَعْقَلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ويس قَلْبُ اْلقُرْآنِ: لاَ يَقْرَأُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ اْلأَخِرَةِ إِلاَّ غُفِرَلَهُ. إِقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
Artinya :
Mengabarkan padaku Muhammad bin Abdul A’la meriwayatkan padaku dari bapaknya dari seorang lelaki dari Maqal bin Yasar bahwa sesungguhnya Rasulullah saw berkata, ” Surat Yasin adalah hati Al Qur’an, tidaklah seseorang membacanya karena mengharap ridho Allah kecuali Allah pasti akan mengampuninya, bacalah surat Yasin untuk orang mati kalian”.
            Hadis tersebut diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Amal al Yaum wa al Lailah (no: 1075).[10]  Kelemahan hadis tersebut adalah karena terdapat beberapa perawi yang majhul.sebagaimana dikemukakan sebelumnya kelemahan karena kemajhulan seorang perawi adalah kelemahan yang ringan sehingga bisa ditopang oleh hadis lain yang semakna.
            Dengan memperhatikan sifat-sifat kelemahan hadis di atas yang ringan serta adanya hadis dari jalur lain yang semakna maka lebih tepat jika hadis-hadis tentang keutaman surat Yaasiin dianggap berderajat Hasan li ghoirihi. Dan hadis dengan derajat seperti itu adalah salah satu hadis yang bisa dijadikan hujjah atau dalil.
Imam Asy Syaukani menukil dalam kitabnya bahwa hadis tersebut dianggap shohih oleh Ibnu Hibban. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits tersebut dan menganggapnya shohih.[11] Tentu pandangan tersebut menurut kaidah-kaidah keshahihan hadis yang dipilih oleh dua imam tersebut.[12]
            Dalam sebuah karangannya Ustadz Yazid Abdul Qodir al Jawaaz (salah seorang  ustadz salafi wahhabi) mengatakan bahwa hadits di atas adalah dho’if  karena ada perawi yang majhul (jahalah) dalam susunan perawinya yaitu Abu Utsman. Dan dengan alasan itu pula ia menganggap ”Yasinan” sebagai bid’ah, sebuah tuduhan yang gemar dilancarkannya. Pandangan ustadz Yazid ditelan mentah-mentah dan dianggap benar seratus persen oleh orang-orang yang juga gemar melontarkan tuduhan bid’ah kepada orang lain yang berbeda ijtihadnya (sebuah kegemaran yang paling dibenci ulama-ulama salaf).
Terhadap pandangan ustadz Yazid penulis perlu mengemukakan :
1.      Kalau memang benar hadits ini dho’if  disebabkan kejahalahan / kemajhulan Abu Utsman (ustadz Yazid mengutip sumbernya dari pendapat ahli hadits besar Adz Dzahabi) tidak berarti hadits ini haram dijadikan hujjah, sebab berdasarkan penelitian di atas hadis tersebut juga diriwayatkan oleh perawi lain dengan isi dan konteks yang sama sehingga hadis tersebut bisa naik derajatnya menjadi hadis Hasan Lighoirihi. Hadits di atas memenuhi syarat-syarat tersebut. Jadi, wajib diamalkan karena berarti kita telah menghidupkan sunah Nabi.
2.      Dalam buku ”Yasinan” nya – entah sengaja, pura-pura lupa atau lupa – Ustadz tidak mencantumkan susunan sanad yang lengkap melalui riwayat Abu Ya’la sebagaimana kita lihat hadits di bawah ini:
وَقَالَ اْلحَافِظُ أَبُوْيَعْلَى حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ أَبِى إِسْرَائِيْلَ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ زِيَادٍ عَنِ اْلحَسَنِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَرَأَ يس فِى لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ، وَمَنْ قَرَأَ حَمِ الَّتىِ يُذْكَرُ فِيْهَا الدُّخَانُ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ. إسناده جيد. 
Artinya :
”Al Hafidh Abu Ya’la berkata, ”Meriwayatkan padaku Ishaq bin Abi Isra’il meriwayatkan padaku Hajjaj bin Muhammad dari Hisyam bin Ziyad dari Al Hasan, ia berkata: ”Aku mendengar Abu Hurairoh berkata, Rasulalloh SAW bersabda: barang siapa membaca Surat Yasin di malam hari maka keesokan paginya diampuni Allah. Dan barang siapa yang membaca Haa Mim yang disebut di dalamnya Ad Dukhon maka keesokan paginya diampuni oleh Allah”. Hadits ini isnadnya bagus.[13] 
Ia justru menampilkan hadits dengan redaksi (matan) serupa yang diriwayatkan oleh at Thabroni dalam kitab al Mu’jam al Ausath dan al Mu’jam ash Shoghir, yang didalamnya terdapat nama Aghlab bin Tamim yang oleh ahli hadits dianggap dhoif[14]. Sedangkan dalam riwayat Abu Ya’la di atas sama sekali tidak ada nama perawi tersebut. Bahkan riwayat Abu Ya’la itu diberi komentar isnaaduhu jayyid (susunan sanad/ perawinya bagus). Menurut ahli hadits Indonesia, guru besar Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ), Jakarta Profesor Doktor KH. Maghfur Utsman, jika sebuah hadits dikomentari isnaaduhu jayyid  maka hadits tersebut berderajat hasan[15].
Maka jelaslah bahwa hadits tersebut bisa dijadikan hujjah, sehingga orang yang mengamalkannya memperoleh pahala dari Allah, dan berdosalah orang yang dengan sengaja (apalagi dengan semangat kebencian yang meluap-luap) meninggalkan dan menanggalkan isi hadits tersebut. Na’udzubillah!!!

D.   Mengapa disebut Qalb al Qur’an dan Apa hubungannya dengan orang yang sudah meninggal
            As Suyuthi menukil pendapat al Ghazali bahwa Surat Yasin disebut Qolb al Qur’an[16] karena sahnya keimanan diukur dengan pengetahuan terhadap al Hasyr (hari dikumpulkannya seluruh manusia) dan an Nasyr (hari kiamat). Pengenalan tersebut diteguhkan dalam surat Yaasin dengan sebaik-baik pengungkapan. Sedangkan menurut an Nasa’i ia mengatakan bahwa kemungkinannya karena dalam surat tersebut berisi pemantapan tiga pokok ketauhidan, risalah, dan hari kebangkitan, dimana hal-hal tersebut berkait dengan keyakinan hati.[17]
                        Adapun maksud kalimat إقرءوها على موتاكم (bacalah surat Yasin untuk orang mati kalian) adalah karena di dalam Surat Yasin diterangkan tentang kematian dan kehidupan,[18] contohnya pada ayat :
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَءَاثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
Artinya :
            Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)[19].
Dan
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ
Artinya :
            Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.[20]

E. Kapan Surat Yaasiin dibaca?
            Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Sebagian berpendapat surat Yaasiin dibaca untuk orang yang akan meninggal dunia, sebagian lainnya berpendapat surat Yaasiin dibaca untuk orang yang sudah meninggal dunia.
            Imam Al Qurtubi mengatakan bahwa membaca Surat Yasin untuk orang mati maksudnya membaca surat tersebut di sisi orang yang akan mati atau juga membaca di kuburannya. Mengenai pendapat tersebut Ash Suyuthi mengatakan bahwa pendapat yang pertama (dibaca ketika orang akan mati) itu merupakan pendapat jumhur ulama, sedangkan pendapat kedua merupakan pendapat Ibn Abdul Wahid Al Maqdisi. [21] Menurut Imam As-Saukani jika dibaca untuk orang yang sudah meninggal dunia maka tujuannya adalah untuk meringankan beban (siksa) mayit di dalam kubur. [22] Jadi pada dasarnya surat tersebut dibaca di sisi orang yang mau meninggal dunia maupun sudah meninggal dunia sama-sama dibenarkan dan mendapat pahala. 
            Sedangkan menurut Abu Thoyyib surat Yaasiin dibaca kepada seseorang yang akan meninggal dunia. Hikmahnya adalah memperdengarkan kepada orang tersebut dzikir kepada Allah, situasi hari kiamat dan kebangkitan.[23]
            Ia juga menukil pendapat Ar Raazi dari al Tafsiir al Kabiir bahwa perintah membaca Yaasiin di sisi orang yang mendekati kematian adalah sebagai pemberi tahu bahwa mulut (lisan) pada saat-saat tersebut lemah kekuatannya sementara seluruh perasaan hatinya sedang menghadap Allah maka dibacakanlah padanya surat bacaan yang bisa menguatkan hatinya dan memperoleh keyakinannya terhadap pokok-pokok agama.[24]
Kesimpulan
            Kalau saya mengikuti orang yang gemar menuduh bid’ah ibadah orang lain yang tidak sama, tentu saya akan mengatakan begini :
            “Yasinan adalah kebiasaan atau pekerjaan yang dianggap ibadah karena memiliki sumber hukum berupa hadits Nabi yang menurut ukuran ilmu mustholahah al hadits derajatnya hasan lighoirihi yang bisa diterima sebagai hujjah dan harus diamalkan. Maka orang yang menolak Yasinan adalah pelaku bid’ah tarkiyah senyata-nyatanya dan bisa dianggap sesat dan harus siap merasakan api neraka”
            Tapi saya tidak ingin menyimpulkan seperti itu sebab cara pandang seperti itu sungguh sangat jauh dari cara pandang para ulama salaf. Saya hanya ingin memberi kesimpulan sederhana bahwa insya Allah tradisi “Yasinan”  yang banyak dilakukan oleh umat Islam tidaklah bertentangan dengan sunah Nabi, dan siapa yang melakukannya insya Allah memperoleh pahala dari Allah. Tapi harus diperhatikan juga bahwa sebaiknya dalam tradisi “Yasinan” tidak hanya diisi  dengan hanya membaca Surat Yasin tapi harus tingkatkan kualitasnya dengan bersungguh-sungguh menkaji dan mendalami ayat-ayat surat tersebut untuk diamalkan. Hanya Allah Yang Maha Benar.

REFERENSI :
  1. Al Imam Abi al Husain Muslim bin Al Hajjaj Al Qusyairy An Naisabury, Shohih Muslim, (Libanon, Daar al Fikr, 1992)
  2. DR. Muhammad Ajjaj Al Khothib, Ushuul al Hadits, (Libanon, Daar Al Fikr, 2006)
  3. Al Imam Muhammad bin Ali Muhammad Asy Syaukani Al Yamani, Tuhfah Adz Dakirin, (Kairo, Daar al Hadiits, 2004)
  4. DR. Mahmud Ath Thohaan, Taisiir Mushtholah al Hadits, (Libanon, Daar al Fikr)
  5. Abu al Fida al Hafidh Ibn Katsir Ad Dimsyaqi, Tafsir Al Qur’an Al Adhiim, (Libanon, Daar al Fikr, 1992)
  6. Jalal al Din As Suyuthi Asy Syafi’i , Al Itqaan fi Ulum al Qur’an (Libanon, Daar al Fikr, tt)
  7.  AW.  Munawwir, Kamus Al Munawwir, Arab-Indonesia Terlengkap  ( Yogyakarta, Pustaka Progressif, 2000)
  8. Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Ziarah ke Alam Barzakh (terjemahan Syarh ash-Shudur bi Syarh al Mautaa wa al Qubur), Jakarta, Pustaka Hidayah, 2005
  9. Ahmad bin Syuaib an Nasa’i, ‘Amal al Yaum wa al Lailah, Kairo,  Daar al Salaam, 2007M/1428 H., cet. 1
  10. Drs. KH. M. Sufyan Raji Abdullah Lc., Bid’ahkah Yasinan, dan Bacaan Al Qur’an untuk Orang Mati, Jakarta, Pustaka al Riyadl, 2008M, cet. 2


[1] Al Imam Abi al Husain Muslim bin Al Hajjaj Al Qusyairy An Naisabury, Shohih Muslim, (Libanon, Daar al Fikr, 1992), juz dua, hal: 574.
[2] DR. Muhammad Ajjaj Al Khothib, Ushuul al Hadits, (Libanon, Daar Al Fikr, 2006), hal: 275.
[3] DR. Muhammad Ajjaj Al Khothib, Ushuul al Hadits, ibid
[4] Al Imam Muhammad bin Ali Muhammad Asy Syaukani Al Yamani, Tuhfah Adz Dakirin, (Kairo, Daar al Hadiits, 2004), hal: 419
[5] DR. Mahmud Ath Thohaan, Taisiir Mushtholah al Hadits, (Libanon, Daar al Fikr), hal: 43.
[6]Ahmad bin Syuaib an Nasa’i, ‘Amal al Yaum wa al Lailah, Kairo,  Daar al Salaam, 2007M/1428 H., cet. 1, h:442-443    
[7]Lihat tahqiq hadis tersebut oleh Faruuq Hamadah dalam  tahqiq kitab ‘Amal al Yaum wa al Lailah, Kairo,  Daar al Salaam, 2007M/1428 H., cet. 1, h: 443
[8]Dinukil dari Drs. KH. M. Sufyan Raji Abdullah Lc., Bid’ahkah Yasinan, dan Bacaan Al Qur’an untuk Orang Mati, Jakarta, Pustaka al Riyadl, 2008M, cet. 2, h: 34    
[9]Drs. KH. M. Sufyan Raji Abdullah Lc., Bid’ahkah Yasinan, dan Bacaan Al Qur’an untuk Orang Mati, ibid.
[10]Ahmad bin Syuaib an Nasa’i, ‘Amal al Yaum wa al Lailah, h. 443
[11]Al Imam Muhammad bin Ali Muhammad Asy Syaukani Al Yamani, Tuhfah Adz Dzakirin, ibid.
[12]Salah satu pandangan Ibn Hibban adalah bahwa perawi yang majhul (perawi yang tidak ada biografinya dalam kitab-kitab rijaalul hadits)  dianggap sebagai perawi yang shahih selagi tidak ada seorang ahli hadis pun yang mencelanya.
[13] Abu al Fida al Hafidh Ibn Katsir Ad Dimsyaqi, Tafsir Al Qur’an Al Adhiim, (Libanon, Daar al Fikr, 1992) jilid ketiga, hal: 678.
[14]Al Imam Muhammad bin Ali Muhammad Asy Syaukani Al Yamani, Tuhfah Adz Dakirin, ibid.
[15] Wawancaara 14 Februari 2007
[16] Menurut kamus al Munawwir qolb (قلب       ) artinya : hati, isi, lubuk hati, jantung, inti (lihat kamus al Munawwir, Arab-Indonesia terlengkap, Yogyakarta, Pustaka Progressif, 2000, cet. kedua puluh lima, hal. : 1145)
[17] Jalal al Din As Suyuthi Asy Syafi’i , Al Itqaan fi Ulum al Qur’an (Libanon, Daar al Fikr, tt), juz kedua, hal. : 159
[18] Al Imam Muhammad bin Ali Muhammad Asy Syaukani Al Yamani, Tuhfah Adz Dakirin, ibid.
[19] al Qur’an Surat Yasin ayat 12
[20] al Qur’an Surat Yasin ayat 12
[21] Imam Jalaluddin as-Suyuthi,Ziarah keAlam Barzakh (terjemahan Syarh ash-Shudur bi Syarh al Mautaa wa al Qubur), Jakarta, Pustaka Hidayah, 2005, cet kesatu, hal. : 393
[22] As-Saukani, ibid 
[23]Abu Thoyyib Muhammad Syams Al Haq Al ‘Adhiim Aabadi, Aun al Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, Kairo, Daar al Haadits, 2001M/1422H, juz 6, h:31
[24] Abu Thoyyib Muhammad Syams Al Haq Al ‘Adhiim Aabadi, Aun al Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, ibid

2 komentar:

  1. Begini pak... Yg dimaksud yasinan yg laris manis di masyarakat adalah yasinan yg mendoakan almarhum...
    Jelas itu bid'ah dong, toh nabi/sahabat aja gak pernah ngamalin...

    BalasHapus
  2. @adedas , memang salah kalau kita mendoakan almarhum ??

    BalasHapus