Masuk

Selasa, 06 Desember 2011

Muharram Bulan yang Dimuliakan

M U H A R R A M
BULAN YANG DIMULIAKAN
Oleh : Drs. Muhammad S. Bukhori Maulana, MA

Dalam beberapa ayat Al Qur’an maupun hadits Nabi terdapat beberapa keterangan yangmemuat mengenai keutamaan-keutamaan tempat, waktu atau ibadah tertentu. Hal tersebut mungkin dimaksudkan untuk menepis kejenuhan manusia dari ibadah kepada Allah yang secara umum ada dalam jiwa masing-masing, sehingga menggerakkan mereka untuk tetap istiqomah beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan penuh kekhusyuan.
Di antara waktu yang dikemukakan keutamaannya oleh Allah adalah bulan Muharram. Bulan ini kemuliannya tertera baik dalam Al Qur’an maupun hadits Nabi saw.

A.       Bulan Muharram salah satu bulan yang dimuliakan Allah (Asyhur Al Hurum)
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender hijriyah. Perhitungan bulan-bulan Qomariyah dalam masyarakat Arab yang kemudian ditetapkan pula oleh ajaran Islam dimulai dengan selesainya bulan Haji. Karena itu bulan pertama adalah Muharram, yakni bulan yang menyusul selesainya ibadah haji.[1] Bulan tersebut dinamakan Muharram karena merupakan bulan yang dimuliakan, tapi menurut Ibn Katsir penamaan tersebut sifatnya untuk menegaskan kemuliaannya karena orang-orang Arab jahiliyah berganti-ganti memuliakannya, satu tahun memuliakannya tahun selanjutnya tidak.[2]
Bulan Muharram bersama bulan lainnya yaitu Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Rajab termasuk Arba’ah Al Hurum (empat bulan yang dimuliakan), sebagaimana tertera dalam firman Allah di bawah ini :
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ


Artinya :
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
(QS. At Taubah [9] ayat : 36)
Orang-orang Arab jahiliyah mengagungkan bulan-bulan tersebut dengan mengharamkan peperangan di dalamnya, sehingga jika ada salah seorang bertemu dengan pembunuh bapaknya ia takkan memusuhinya.[3]

B.        Berpuasa di Bulan Muharram
Sebenarnya ibadah apapun yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan sunnah Nabi dianjurkan untuk dilaksanakan kapan saja dan di bulan apa saja, tapi dalam beberapa hadits shahih terdapat anjuran untuk melakukan ibadah puasa di bulan Muharram dengan beberapa penjelasan mengenai keutamaannya sebagaimana hadits-hadits di bawah ini:

a.        Latar Belakang Berpuasa di Bulan Muharram
Terjadi perbedaan konteks tentang disyariatkannya puasa Muharram antara hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas

1.        Hadits riwayat Aisyah
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ ومَنْ شَاءَ أَفْطَرَ.
Artinya :
Dari Urwah bin Zubair bahwa sesungguhnya Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah saw memerintahkan puasa ‘Asyura (tanggal 10 Muharram), maka ketika puasa Ramadhan diwajibkan orang yang menghendaki puasa pada hari tersebut berpuasa yang tidak menghendaki tidak berpuasa.
(Hadits Shahih riwayat Bukhori no: 2001)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ تَصُوْمُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ. وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
Artinya :
Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa sesungguhnya orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah berpuasa pada hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram). Rasulullah pun berpuasa pada hari itu. Ketika beliau dating ke Madinah beliau berpuasa di hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Selanjutnya ketika puasa Ramadhan diwajibkan beliau meninggalkan puasa di hari ‘Asyura, maka orang yang menghendaki berpuasa pada hari itu, yang tidak menghendaki tidak berpuasa.
(Hadits Shahih riwayat Bukhori no: 2002)
Dari hadits di atas terkandung kesimpulan bahwa puasa ‘Asyura memang sudah dilakukan oleh Nabi sebelum beliau datang  ke Madinah.

2.        Hadits riwayat Abdullah bin Abbas
عَنِ ابْنِ عَباَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمَدِيْنَةَ فَرَأَىٰ الْيَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قَالُوْا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِي إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى، قَالَ؛ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَىٰ مِنْكُمْ، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas bahwa Nabi saw datang ke Madinah. Ia melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyura maka beliau bersabda, ”Apa-apaan ini?” orang-orang Yahudi menjawab, “Hari ini adalah hari yang baik, pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa”, Nabi bersabda, “Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian” kemudian Nabi berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya untuk bepuasa pada hari itu.
(Hadits Shahih riwayat Imam Bukhori no : 2004)
Dalam hadits tersebut terkandung pengertian bahwa puasa ‘Asyura di mulai di kota Madinah ketika Nabi berhijrah ke kota tersebut.    
b.        Keutamaan Puasa 10 Muharram
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ : أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللّهِ الْمُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ
Artinya :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat fardu adalah shalat malam”.
(Hadits Shahih riwayat Imam Muslim no : 1163)

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ: وَسُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيةَ».
Artinya:
Diriwayatkan dari Abu Qotadah Al Anshari ra ia berkata, “Rasulullah ditanya tentang puasa di hari ‘Asyura, maka Beliau menjawab, “Puasa tersebut dapat meleburkan dosa-dosa yang telah lalu”.
(Hadits shahih riwayat Muslim No: 1162)

c.         Keutamaan Puasa 9 Muharram (Taasu’aa)
Agaknya lama-kelamaan para sahabat berpikir juga bahwa dengan berpuasa pada tanggal 10 Muharam saja seakan-akan mereka turut membesarkan hari besar orang-orang Yahudi yang memang jatuh pada tanggal tersebut, maka Nabi Muhammad pun berkehendak ingin berpuasa pada tanggal 9 Muharram juga sehingga bisa menghilangkan kesan tersebut sebagaimana diterangkan dalam hadits di bawah ini:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمَّا صَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمْهُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى! فَقَالَ: «إِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ». قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dari Ibnu ‘Abbas ra. berkata, “Ketika Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan kepada para sahabat untuk berpuasa di hari tersebut, para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari tersebut adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani!” maka Nabi bersabda, “Apabila datang tahun depan insya Allah aku akan berpuasa pada hari kesembilan Muharram”. Ibnu Abbas berkata, “Belum sampai datang tahun depan, Rasulullah saw wafat
(Hadits shahih riwayat Muslim No: 1134 dan Abu Dawud No. 2445)

Dalam menyikap isi hadits di atas sebagian ulama berpendapat bahwa berpuasa tanggal 9 Muharram, tidak disunahkan dengan alasan puasa tersebut belum sempat dilaksanakan oleh Nabi, sedangkan ulama lainnya berpendapat puasa di hari tersebut tetap sunah karena menjadi keinginan Nabi (disebut sunnah hammiyyah). Penulis cenderung pada pendapat yang kedua.

C.        Santunan Anak Yatim Tanggal 10 Muharram
Tidak ada rujukan yang pasti baik dari ayat Al Qur’an maupun sunah Nabi yang menganjurkan secara khusus agar umat Islam menyantuni anak-anak yatim pada hari tersebut. Tetapi kalau kegiatan santunan pada hari itu dianggap sebagai perbuatan bid’ah yang tercela juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Santunan anak yatim barangkali merupakan penjabaran dari hadits Nabi yang telah menganjurkan umat Islam untuk bersikap melonggarkan kesulitan orang lain pada hari itu – termasuk kesulitan anak-anak yatim – sebagaimana hadits di yang dinukil oleh Prof. DR. Sayyid Sabiq dalam Fiqh As Sunnahnya di bawah ini:
عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ وَسَّعَ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ».
Dari Jabir bin Abdillah ra. bahwasannya Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melonggarkan urusannya atas dirinya dan keluarganya pada tanggal 10 Muharram, maka Allah akan melonggarkan baginya di seluruh umurnya”.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’b Al Imaan (No: 3791) dan oleh ibnu ‘Abd Al Barr dalam Al Istidzkaar (No. 14294). Hadits tersebut memiliki jalur-jalur periwayatan lainnya yang masing-masing berderajat dha’if tetapi jika digabungkan antara yang satu dengan yang lainnya akan bertambah kekuatannya sebagaimana dikatakan oleh As Sakhawi.[4]
Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling


Referensi:
1.        M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 5, Jakarta, Lentera Hati, 2006, Cet. ke-6
2.        Abu Al-Fidaa Al Hafidz Ibn Katsir Ad Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an Al Adhiim, Beirut, Daar Al Fikr, 1992 M/1412H, Jilid II
3.        Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wiil Aayi Al Qur’an, Kairo Daar Al-Salam,  2009M/1430H, Cet. IV, Jilid V
4.        Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori, Shohih Al Bukhori, Kairo: Ad Daar Adzahabiah, tt
5.        Abu al Husain Muslim bin al Hajaj al Qusyairi an Naisabury, Shohih Muslim, Beirut, Daar al Fikr, 1992
6.        Abu Dawud Sulaiman bin al Asy’ats as Sijistani, Sunan Abu Dawud, Beirut, Daar al Fikr, 2003
7.        Abu Isa  Muhammad bin Isa bin Surah At Turmudzi, Sunan At Turmudzi, Beirut, Daar al Kutub al Ilmiah, 2006
8.        Prof. DR. As Sayyid As Saabiq, Fiqh As Sunnah, Kairo, Daar Al Hadiits, 2004 M/1425 H


[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 5, Jakarta, Lentera Hati, 2006, cet. Ke 6, h: 587
[2] Abu Al-Fidaa Al Hafidz Ibn Katsir Ad Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an Al Adhiim, Beirut, Daar Al Fikr, 1992 M/1412H, jilid 2, h: 431
[3] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wiil Aayi Al Qur’an, Kairo Daar Al-Salam,  2009M/1430H, cet. IV, jilidV, h: 3986
[4] Prof. DR. As Sayyid As Saabiq, Fiqh As Sunnah, Kairo, Daar Al Hadiits, 2004 M/1425 H, h. 302

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar